Menghadapi Ancaman Tingkat Tinggi

Keluarga besar Narto menyesalkan sikap kasar personel Densus 88 Antiteror Polri, saat menggeledah sebuah kamar yang didiami terduga teroris. Menanggapi hal tersebut, Kabag Penum Mabes Polri Kombes Agus Rianto mengatakan, pihaknya saat itu sedang menghadapi ancaman tingkat tinggi.

"Yang kami hadapi kan ancaman tingkat tinggi, jadi kami perlu melakukan kewaspadaan," ujar Agus ketika dihubungi. Agus meminta pengertian masyarakat atas tindakan yang dilakukan Densus 88. Sebab, perilaku terduga teroris tidak segan menghilangkan nyawa orang yang menghalanginya.

"Mereka bisa melukai bahkan menghilangkan nyawa," imbuhnya. Agus menuturkan, tindakan yang dilakukan Densus 88 semata-mata untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, termasuk anggota di lapangan. "Pimpinan tidak mentolerir ketika ada hal yang dilanggar, tapi semuanya untuk perlindungan, baik masyarakat maupuan anggota polisi itu sendiri," ucapnya.

"Jangan sampai terjadi seperti di Solo, anggota kami ada yang meninggal," katanya. Sebelumnya, ibunda Narto mengaku syok melihat aksi Densus 88 Antiteror yang masuk seenaknya. Apalagi, ketika masuk ke dalam rumah, mereka teriak meminta penghuni keluar.

“Saya merasa bingung, ada apa kok polisi masuk ke kamar. Terus terang saya orangnya jantungan. Yang buat saya kaget lagi, anak saya ditangkap waktu membagikan daging kurban dari masjid,” ungkap ibunda Narto.

Narto ditangkap Densus 88 berpakaian preman di mulut gang, ketika membawa plastik berisi daging kurban untuk tetangga. Kemudian, Narto langsung dibawa masuk ke dalam mobil Densus 88 Antiteror.

Keponakan Narto lainnya bahkan menyebut aksi Densus 88 Antiteror berlebihan. Karena, yang masuk ke dalam rumah berjumlah 10 orang, dengan membawa senjata jenis M16, plus memakai rompi antipeluru.